PRESIDEN Dmitry Medvedev mengatakan, Rusia mengakui kemerdekaan Ossetia dan Abkhazia, dua provinsi yang memisahkan diri dari Georgia.
"Saya telah menandatangani dekrit pengakuan Federasi Rusia atas kemerdekaan Osetia Selatan dan Abkhazia," kata Presiden Medvedev dalam pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah.
"Rusia mendesak negara negara lain untuk melakukan hal yang sama," tambah Medvedev.
Perkembangan ini menyusul pemungutan suara di kedua majelis parlemen Rusia hari Senin, yang hasilnya mendesak presiden negara itu agar mengakui kemerdekaan kedua kawasan.
Pengakuan ini dikeluarkan Rusia, meski Presiden Amerika Serikat George W Bush telah meminta agar Rusia tidak mengakui wilayah separatis.
Amerika dan Prancis menyatakan langkah Rusia itu disesalkan, sedangkan Inggris mengatakan menolak pengakuan Rusia tersebut.
Sementara itu, Nato mengatakan, deklarasi Rusia itu melanggar banyak resolusi Dewan Keamanan PBB yang juga didukung Rusia sendiri.
Namun, para pemimpin Abkhazia dan Ossetia Selatan, yang sebenarnya de facto sudah merdeka pada awal 1990-an, berterimakasih kepada rusia.
Rusia dan Georgia terlibat perang singkat bulan ini setelah Georgia melancarkan serangan untuk merebut kembali Ossetia Selatan dengan kekuatan militer.
KUNJUNGAN BATAL
Para analis mengatakan, langkah Rusia ini mungkin mempertegang hubungan Rusia dan Barat.
Sebelumnya, dutabesar Rusia untuk NATO, Dmitri Rogozin, mengatakan Rusia menghentikan latihan militernya dengan NATO dan membatalkan kunjungan yang direncanakan sekretaris jenderal NATO, Jaap de Hoop Scheffer ke Moskow bulan Oktober.
Rogozin mengatakan dalam jumpa pers di Moskow bahwa Rusia akan menangguhkan operasi penjagaan perdamaian dengan NATO di Balkan selama paling tidak 6 bulan.
Namun dia mengatakan Rusia akan tetap mengizinkan NATO menggunakan wilayah udara Rusia untuk memasok pasukan di Afghanistan untuk saat ini, dan akan tetap bekerjasama dalam memerangi terorisme.
(bbc)
"Saya telah menandatangani dekrit pengakuan Federasi Rusia atas kemerdekaan Osetia Selatan dan Abkhazia," kata Presiden Medvedev dalam pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah."Rusia mendesak negara negara lain untuk melakukan hal yang sama," tambah Medvedev.
Perkembangan ini menyusul pemungutan suara di kedua majelis parlemen Rusia hari Senin, yang hasilnya mendesak presiden negara itu agar mengakui kemerdekaan kedua kawasan.
Pengakuan ini dikeluarkan Rusia, meski Presiden Amerika Serikat George W Bush telah meminta agar Rusia tidak mengakui wilayah separatis.
Amerika dan Prancis menyatakan langkah Rusia itu disesalkan, sedangkan Inggris mengatakan menolak pengakuan Rusia tersebut.
Sementara itu, Nato mengatakan, deklarasi Rusia itu melanggar banyak resolusi Dewan Keamanan PBB yang juga didukung Rusia sendiri.
Namun, para pemimpin Abkhazia dan Ossetia Selatan, yang sebenarnya de facto sudah merdeka pada awal 1990-an, berterimakasih kepada rusia.
Rusia dan Georgia terlibat perang singkat bulan ini setelah Georgia melancarkan serangan untuk merebut kembali Ossetia Selatan dengan kekuatan militer.
KUNJUNGAN BATAL
Para analis mengatakan, langkah Rusia ini mungkin mempertegang hubungan Rusia dan Barat.
Sebelumnya, dutabesar Rusia untuk NATO, Dmitri Rogozin, mengatakan Rusia menghentikan latihan militernya dengan NATO dan membatalkan kunjungan yang direncanakan sekretaris jenderal NATO, Jaap de Hoop Scheffer ke Moskow bulan Oktober.Rogozin mengatakan dalam jumpa pers di Moskow bahwa Rusia akan menangguhkan operasi penjagaan perdamaian dengan NATO di Balkan selama paling tidak 6 bulan.
Namun dia mengatakan Rusia akan tetap mengizinkan NATO menggunakan wilayah udara Rusia untuk memasok pasukan di Afghanistan untuk saat ini, dan akan tetap bekerjasama dalam memerangi terorisme.
(bbc)