RUSIA tidak mengindahkan peringatan NATO dan tetap mempertahankan pasukannya berada di wilayah Georgia.
Menteri luar negeri Rusia, Lavrov menuduh Nato bertindak bias dan berupaya menyelamatkan 'rezim penjahat " di Tbilisi.
Lavrov bersikukuh bahwa Moskow tidak akan menduduki Georgia dan tidak punya rencana mencaplok wilayah Osetia Selatan yang ingin memisahkan diri dari Georgia.
Sebelumnya, NATO menuntut Rusia menarik mundur pasukannya dari Georgia seperti yang sudah disepakati dalam rencana gencatan senjata yang ditengahi oleh Uni Eropa dan sudah ditandatangani oleh Rusia dan Georgia akhir pekan lalu.
Presiden Rusia, Dmitri Medvedev mengatakan kepada presiden Perancis Nicolas Sarkozy dalam percakapan telepon bahwa penarikan mundur itu akan selesai dilakukan tanggal 21-22 Agustus. Namun, lima ratus pasukannya akan tetap ditempatkan di pos-pos penjaga perdamaian di dua sisi perbatasan Ossetia Selatan.
Beberapa pasukan Rusia tampak sudah meninggalkan Gori, kota terbesar Georgia yang paling dekat dengan perbatasan Ossetia Selatan.
Sementara itu, wartawan BBC melaporkan, artileri Rusia masih berada di posisinya. Juga, masih terdapat pos-pos pemeriksaan yang didirikan Rusia dekat dengan ibukota Georgia, Tbilisi.
Konflik ini pecah tanggal 7 Agustus lalu ketika Georgia melancarkan serangan ke wilayah separatis Ossetia Selatan, yang memicu serangan balasan dari pasukan Rusia, kemudian melaju memasuki jantung Georgia, jauh meninggalkan wilayah Ossetia Selatan.
Kedua belah pihak saling tuduh pihak lawan melanggar rencana damai, dan berbagai laporan mengatakan, sejauh ini sedikit sekali pertanda akan terjadi penarikan mundur secara besar-besaran.
(bbc.co.uk)
Menteri luar negeri Rusia, Lavrov menuduh Nato bertindak bias dan berupaya menyelamatkan 'rezim penjahat " di Tbilisi. Lavrov bersikukuh bahwa Moskow tidak akan menduduki Georgia dan tidak punya rencana mencaplok wilayah Osetia Selatan yang ingin memisahkan diri dari Georgia.
Sebelumnya, NATO menuntut Rusia menarik mundur pasukannya dari Georgia seperti yang sudah disepakati dalam rencana gencatan senjata yang ditengahi oleh Uni Eropa dan sudah ditandatangani oleh Rusia dan Georgia akhir pekan lalu.
Presiden Rusia, Dmitri Medvedev mengatakan kepada presiden Perancis Nicolas Sarkozy dalam percakapan telepon bahwa penarikan mundur itu akan selesai dilakukan tanggal 21-22 Agustus. Namun, lima ratus pasukannya akan tetap ditempatkan di pos-pos penjaga perdamaian di dua sisi perbatasan Ossetia Selatan.
Beberapa pasukan Rusia tampak sudah meninggalkan Gori, kota terbesar Georgia yang paling dekat dengan perbatasan Ossetia Selatan.
Sementara itu, wartawan BBC melaporkan, artileri Rusia masih berada di posisinya. Juga, masih terdapat pos-pos pemeriksaan yang didirikan Rusia dekat dengan ibukota Georgia, Tbilisi.
Konflik ini pecah tanggal 7 Agustus lalu ketika Georgia melancarkan serangan ke wilayah separatis Ossetia Selatan, yang memicu serangan balasan dari pasukan Rusia, kemudian melaju memasuki jantung Georgia, jauh meninggalkan wilayah Ossetia Selatan.
Kedua belah pihak saling tuduh pihak lawan melanggar rencana damai, dan berbagai laporan mengatakan, sejauh ini sedikit sekali pertanda akan terjadi penarikan mundur secara besar-besaran.
(bbc.co.uk)